Sawahku yang Hilang

Minggu ini saya jalan-jalan ke daerah Bandung Selatan. Tidak seperti Bandung Utara, rata-rata Bandung Selatan jarang pepohonan dan panas banyak debu. Rencana awal sih, pengen jalan-jalan ke Pengalengan, tapi karena tak tahu jalanšŸ˜€ , baru sampai sampai Bale endah saya balik lagi. Sepanjang jalan dari Dayeuhkolot, jujur saja, pemandangannya “tidak indah” (untuk urang bandung no offense). Selain panas, banyak debu, di got-got juga banyak sampah, terang saja kawasan ini jadi langganan banjir. Belum lagi jalanan yang sempit, angkot ngetem, dan kotoran kuda, mungkin ini yang menjadikan saya malas jalan-jalan di sekitar Bandung. Kalau saya lihat, kawasan Dayeuhkolot ini dulu sebenarnya merupakan areal persawahan. Seiring berjalannya waktu, mungkin banyak dibangun rumah dan pabrik di sekitarnya. Sedih juga melihat lahan-lahan produktif ini menjadi pemukiman. Selain menggerus lahan produktif, juga menjadi penyebab banjir.Ā  Pernah saya naik kereta api, di tengah perjalanan terjadi banjir di areal persawahan, rasanya kereta api seperti melintasi laut saja.
Sebelumnya saya jalan-jalan di di daerah Cimahi, lalu menyusuri Jalan Soekarno-Hatta. Saya membayangkan juga di jalan lingkar ini sebelumnya di kanan-kirinya sawah. Sekarang, sawah beberapa petak yang bisa saya temukan hanya ada di perempatan terusan Buah Batu.
Tidak usah jauh-jauh, dari kampus ITB, sawah mana yang terdekat? . Baru-baru ini saya menemukan ternyata ada sepetak sawah 500 meter ke utara simpang Dago, waktu saya sedang main ke asrama republika. Lalu ada juga di Cisitu, ada beberapa petak sawah. Bahkan ada saluran air, yang saya duga dulunya ini merupakan saluran air irigasi. Lalu tahukah anda Gedung Olahraga Cisitu?, tempat main bulutangkis, saya berani bertaruh dulunya ini merupakan Gudang atau tempat penggilingan beras. Cisitu, dulunya penghasil beras, kini jadi kos-kosan mahasiswa kampus gajah =p .
KEmudian lihatlah bukit dago pakar, sudah ada satu bangunan pencakar langit menjulang tinggi. Pasti dalam waktu dekat bukit asri ini bakal ramai dan gundul, imbasnya bukit ini tak lagi mampu menyimpan persediaan air. Teman saya yang tinggal di daerah sanapun mengeluh sulitnya mendapatkan air lewat sumur bor.


LAlu di tempat kosan saya, di Gegerkalong, dulu menurut sepupu saya saya, tahunĀ  80an akhir. Kawasan di jalan gerlong kanan kirinya sawah. Kini, tak sepetakpun saya temukan. Rasanya menyenangkan kalau saya balik ke Solo, naik motor, di kiri kanan masih persawahan.
Memang pembangunan serta pertumbuhan penduduk yang cepat mengakibatkan lahan pertanian tergerus. Namun haruskah menggusur area pertanian? apalagi yang produktif. Lama-kalamaan negeri ini akan menjadi negeri pengimpor bahan pangan.
Menurut saya, hanya ada dua tipe negara yang dapat bertahan sampai akhir dunia. Pertama, negara penghasil pangan, walaupun miskin, yang penting kebutuhan pokok jalan terus. Kedua, negeri penghasil energi, yang ini memanfaatkan energinnya untuk menjadi kuat dan mencaplok negara lain.
Bagaimana menurut anda?

Thanks, Ibu Rizkita atas kuliah Pengetahuan Lingkungan. Saya jadi lebih peduli lingkunganšŸ˜€

4 thoughts on “Sawahku yang Hilang

  1. Sahabatku Hamka…pa kabar bro ?
    Btw, katanya di add di blogroll el06 ? mana tuh ? hehehehe

    Yups, semenjak Bandung terhubung dengan Jakarta oleh jalan tol, aku juga ngrasain, arus pembangunan yang menggusur2 sawah dan lahan hijau semakin pesat…Terlalu dipaksakan kalau menurutku. Bandung masih belum siap dengan pembangunan seperti ini, mustinya perlu aturan penataan kota yang terstruktur dan melibatkan juga ahli lingkungan hidup.

    Udah saatnya, mahasiswa care ma lingkungan…

    Btw, aq emang ga beragama koq, tp tetep masih bertuhan.hehehe. Komenku atas komenmu di blogq, taktaruh di blogq…

  2. @yesalover
    wah sori lom ditambahin, lagi ngupdate blog anak2 EL di bawah ^^

    iya menurutku pembangunan jalan tol Cipularang juga berpengaruh, lihat saja mulai banyak pabrik di sekitar jalan tersebut. Sekarang pembangunan pabrikdari Cikampek sudah mulai sampai ke Purwakarta.
    Ok2 aja sih kalo mbangun pabrik, tapi mbok yang terencana dan tidak sporadis sehingga mengganngu lingkungan di sekitar. Seringkali ada pabrik/gudang dibangun di tengah sawah. Resapan air jadi terganggu, sawah jadi kering.
    Contoh yang bagus seperti kota Jababeka, emang dikhususkan dan perencanaanya untuk industri

  3. Ya… Lahan pertanian di Jawa memang semakin menyusut..
    Saya pernah baca, neraca konversi lahan sawah di Jawa (1999-2002) = minus 107.482 ha. Artinya, terjadi konversi lahan di atas 100.000 ha (hanya dalam kurun waktu 4 thn), belum lagi yang berbentuk lahan tegalan. Pada periode yang sama, lebih dari 423.000 ha sawah beririgasi teknis maupun nonteknis juga lenyap.

    Padahal, Pulau Jawa (yang luas daratannya hanya 6,5% dari luas seluruh daratan Indonesia ini) memasok 53% kebutuhan pangan nasional (!)

    Ini juga ada pembangunan jalan Trans Jawa, yang hampir pasti juga akan diikuti oleh ‘hilangnya’ sawah-sawah lagi, bukan hanya karena pembebasan lahan untuk jalan, tapi juga diikuti yang lain-lainnya (perumahan, pabrik, pertokoan, dll) karena akses jalan akan menjadi magnet tersendiri…

    Mmm, mungkin koordinasi antar Departemen, dan Dinas-dinas di bawahnya harus lebih ditingkatkan.. Juga kontrol langsung dari pimpinan tertinggi di negeri ini.. yang juga harus melihat ketahanan pangan Indonesia ke depan.. Sering terjadi, penerapan kebijakan saling tumpang tindih antar Departemen..

    Jangan sampai Indonesia di kemudian hari hanya jadi negara pengimpor karena merasa itu lebih ‘mudah’ dan nggak ribet.. Hmm.. Coba lihat aja di supermarket, bahkan juga sekarang di pasar tradisional, beras-beras impor (dari Thailand dan lainnya) sudah ‘membanjiri’ pasar…
    Itu masih bahan makanan ya.. Coba lebih jeli lagi, banyak produk made in China yang juga membanjiri pasar kita.. Pernah saya lihat di supermarket, keranjang rotan (untuk tempat buah, tempat sampah, dll), saya pikir, wah keren nih, pengrajin lokal sudah menembus supermarket.. Setelah saya lihat labelnya “Made in China” (!Gedubraks!)

  4. benar mbak Nur Aini
    Saya kira pemerintah perlu campur tangan dalam pengelolaan lahan. Pembangunan jalan memang secara statistik dan jangka panjang lebih menguntungkan masyarakat kelas atas.
    Permaslahan lain, untuk masa yang akan datang, siapa lagi yang ingin menjadi petani, melihat penghasilan petani sekarang, banyak anak muda yang enggan menjadi petani. Sebenarnya kesejahteraan petani juga bisa dikontrol pemerintah dengan mengendalikan impor2 tadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s