Pilkada Jateng, untuk Jateng-ku

Hari minggu kemarin adalah hari pilkada Jateng. Kebetulan saat itu, saya sedang berada di Solo, jadi saya bisa ikut memilih. Pilkada ini merupakan partisipasi saya yang pertama dalam ajang demokrasi. Namun sayangnya, pilkada ini saya tidak mempunyai calon yang dijagokan, mungkin karena lama tidak berada di Jateng, sehingga sulit melihat visi-misi calon gubernur. Sebelumnya ada acara debat 5 calon gubernur di stasiun TV swasta. Tapi saya kecewa, ternyata di antara calon-calon tersebut belum menarik pilihan saya, karena dilihat dari visi-misinya yang masih abstrak dan pengetahuan umum masih rendah (huh…bagaimana nanti pas membuat kebijakan). Semoga itu cuma subyektifitas saya saja.
Jadilah hari minggu kemarin saya masih bingung memilih, dan akhirnya pilihan saya jatuh kepada….. (Ooops..Ingat asas LUBER). Akhirnya hampir dapat dipastikan, salah satu calon dari partai banteng-lah yang akan memenangkan pilkada. Selamat, semoga dapat menjadikan Jateng yang lebih baik.
Gubernur, merupakan posisi yang penting. Namun menurut saya, kontribusi Gubernur, khususnya propinsi dengan wilayah geografis luas, masih sangat minim. Kecuali propinsi-propinsi khusus, seperti DKI, Yogya, dan Aceh, kebijakan-kebijakan yang dibuat Gubernur serasa abstrak, serasa angin lalu bagi rakyatnya. Popularitas Gubernur kalah dengan walikota/bupati, begitu juga ke-“non-pupularitas”nya. Kecuali masalah korupsi, lihatlah berapa banyak demo ke Gubernur dibanding demo ke Walikotanya. Begitu juga, dengan DPRD Tingkat 1 dibanding DPRD tingkat 2. Kalau diurutkan pembuat kebijakan dari yang terpopuler adalah , 1. Presiden , 2.Walikota/bupati , 3.Gubernur  ,4.Camat dst… Memang dengan adanya otonomi daerah, Pemerintah Tingkat I hanya membuat kebijakan, selanjutnya pemerintah-pemerintah daerah yang melaksanakan. Oleh karena itu, harus berhati-hati dan efektif dalam membuat kebijakan. Menurut saya, ada 5 isu penting bagi Gubernur Jateng bila ingin kebijakannya dianggap efektif, populer dan memihak rakyat, yaitu pertanian, UKM, transportasi ,pendidikan dan korupsi.

Pertanian adalah hal yang tak bisa ditawar lagi, mengingat sebagian besar penduduk Jateng adalah petani, jadi buat kebijakan yang melindungi petani, mengendalikan panen dan harga. Mungkin Jateng boleh dibilang propinsi yang punya penduduk miskin terbanyak di Indonesia dan kebanyakan itu adalah petani. Merupakan tantangan bagi gubernur jateng untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Terlebih Jateng adalah penyuplai komoditi pangan beras – sangat berpengaruh bagi ketahanan pangan nasional.
UKM, pernah saya baca sebuah artikel bahwa penyerap lapangan kerja dan pilar ketahanan ekonomi bnasional, bukanlah perusahaan2 raksasa multinasional, namun adalah UKM-UKM yang jumlahnya jutaan. MErupakan tanggung jwab bagi Gubernur Jateng untuk memajukan UKM ini, di JAteng ini kebanyakan di bidang kerajinan, mebel, dan olah pangan. Bantuan modal dan pinjaman serta melindungi pangsa pasar, adalah hal yang paling mereka butuhkan.
Transportasi, Menurut saya, diantara propinsi lain, Jateng memiliki infrastruktur transportasi terbaik di Indonesia. Dipunggawai 2 jalan utama, Jalur Pantura dan Jalur selatan, dan diantaranya terdapat banyak jalur alternatif dan jalan desa. Ditambah pola pembangunan jalannya, yang  terkotak-kotak (There are more than a way, if you go to one place). Di tiap kota (bahkan kota kabupaten) hampir ada jalan Ring Road/By Pass. Tantangannya adalah, bagaimana membatasi penggunaan kendaraan pribadi, membagun sarana transportasi umum-massal dan membangun lagi infrastruktur transportasi. Di JAteng cuma ada 2 ruas Jalan tol, yang kalau dijumlahkan tidak lebih dari 50KM.
PEndidikan, merupakan isu yang dilontarkan ke pemerintah pusat maupun propinsi. Bagaimana  menyediakan pendidikan yang tidak hanya murah?(Kuantitas) namun juga efektif (kualitas). Saya setuju solusi subsidi silang adalah yang terbaik untuk menyediakan pendidikan murah bagi banyak orang, daripada mengobok-obok APBD yang minim. Percayalah pendidikan memang mahal dan kita memang miskin, guru2 juga butuh dibayar bung. Secara kualitas, harusnya pendidikan banyak diarahkan untuk menjadikan manusia yang siap pakai sesuai situasi di Jateng, seperti SMK pertanian, ekonomi, pariwisata, kerajinan(keknya belum ada ya???), STM Otomotif, elektro, mesin (Cocok bagi lulusan untuk membuka usaha sendiri). Tidak melulu SMA, yang pada akhirnya ijazahnya cuma jadi syarat buruh pabrik. (Mungkin kita terjebak paradigma bahwa SMA jauh lebih prospektif daripada SMK)
Terakhir adalah korupsi, Ini adalah masalah yang sangat sulit diatasi, jika masalah korupsi di pemerintah pusat dapat sedikit teratasi dengan adanya KPK, maka di daerah, korupsi berjamaah seringkali tidak terdeteksi, karena memang sudah mengakar rumput sampai ke lurah. MEmperbaiki sistem birokrasi yang berbelit-belit adalah salah satu solusinya. Selanjutnya perketat pengawasan di daerah tingkat II dan dibawahnya. Membentuk badan seperti KPK di level daerah sepertinya ide bagus dan populer, (membayangkan bila ide ini dilontarkan, lalu ada oknum yang berkoar-koar, patut dicurigai oknum ini hehe…)


Demikian, semoga dibaca oleh pak gubernur terpilih, cuma sekedar masukan dari seseorang yang cinta dan bangga akan daerahnya.

3 thoughts on “Pilkada Jateng, untuk Jateng-ku

  1. Weleh, kowe wis nyoblos to pak? Aku malah belum menggunakan hak pilihku sama sekali.😀
    Hmm.. saiki dadi pengamat politik ye (ganti profesi to?). Kalo dilihat di tipi2 pas debat rasane mereka tidak cocok menjadi gubernur. Pemikiran yang dangkal dan gaya bicara yang ga luwes dihadapan pemirsa. Yah, begitulah. Tapi ono sing soko klaten lho (kota kelahiranku).
    KPK daerah? Menurut pitutur Pak Antasari Azhar pas latpim (mohon maap kalo kliru sana sini), dia bilang KPK hanya ada di pusat. Kewenangan di daerah itu adalah milik polisi dan jaksa. Tapi KPK bisa menjadi trigger untuk melakukan pemberantasan korupsi di daerah. Selain itu KPK menangani korupsi yang jumlahnya sangat besar. Berkisar ratusan juta gitu kalo ga salah. Yah gitu deh apa yang masih ingat. Kebenarannya monggo dicek di http://www.kpk.go.id
    CMIIW

  2. Olahraga ada gak?
    Aku pikir sekarang olahraga juga bisa dijadikan industri utk menopang ekonomi lhoo. Jangan hanya beli beli pemain dari luar untuk kebanggaan sesaat. Harus ada visi ke depan bahwa Jateng juga bisa jadi tempatnya bibit-bibit muda olahraga nasional.

  3. @Ardian Eko
    Memang sih KPK mengurusi kasus2 besar, ordenya miliaran , kalo di level kampung duwit 100ribu dah cukup buat ongkos tutup mulut😀
    Tapi ga ada salahnya kan daerah bikin semacam KPK, ato paling ga, lembaga independen tapi wewenangnya setingkat jaksa dan polisi

    @nesta_palsu
    sebenere kalo olahraga di jateng tinggal masalah pembinaan n infrastruktur, lha wong SDMnya banyak, tiap hari olahraga macul, angkat beras dll.😀
    Tinggal keseriusan pembinaannya dan fasilitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s