Kemarin saya pergi ke kantor Samsat Pajajaran Bandung. Keperluannya untuk meminta cek fisik bantuan dan cap pengesahan bukti cek. CEritanya motor saya sudah expired STNK-nya, jadi harus diperpanjang, Nah karena plat nomor Solo, maka pembayaran pajak harus dilakukan di SOlo. Sementara, motornya di Bandung, jadi cek fisiknya disini.
Dari awal saya pergi ke samsat, saya sudah yakin pasti banyak calo. Benar saja, ketika sampai disana, beberapa orang menawari jasanya pada saya (“Perpanjangan a’?). Sebenarnya memakai jasa calo sah-sah saja sih, namanya juga jasa pasti ada imbalannya. Saya tetap mengurus sendiri. Lagipula di samsat tersebut ada spanduk yang intinya jangan memakai jasa calo
Di loket cek fisik, sudah ada plang tulisan besar “TIDAK DIPUNGUT BAYARAN”. Namun yang membuat saya kesal adalah kelakuan aparatnya sendiri. Pertama ketika saya minta bantuan cek fisik ke seorang petugas cek fisik, ia meminta bayaran Rp. 10.000 . Saya nggak terima “Lho, katanya ga dipungut bayaran?” . Dia menjawab nggak jelas, “Itu kalo di loket cek fisik a’blabla… . Yang namanya cek fisik kan ya di lapangan kan??, lagipula dia itu petugas cek yang mestinya udah digaji .OK-lah, saya beri uang, sebagai pengganti uang lelah dan saat itu hari hujan, walaupun saya sudah kesal.
KEkesalan yang kedua, Saat di loket cek fisik, disitu ada 1 petugas (karena memakai seragam dinas) dan 2 orang lain (saya kira ini pasti calo). Saya minta untuk cap pengesahan bukti cek fisik. Orang yang saya kira calo ini, menawarkan untuk mengurusi ke kantor sebelah blablabla… Saya tak pedulikan, lha wong saya cuma minta cap saja. Akhirnya formulir saya diisikan oleh seorang calo di tempat itu juga, petugas pemberi capnya lagi sholat katanya. Tapi kata calo tadi ada biaya tambahannya. Yang benar saja, saya bersikeras karena sudah jelas tidak dipungut bayaran. Akhirnya petugas yang asli datang, syukurlah pikir saya. Saya dipanggil, disuruh menyerahkan KTP, lalu ia mengambil pamflet prosedur perpanjangan STNK. Seperti sudah fasih, ia menunjukkan kalau STNK yang bukan miliknya (memang STNK saya atas nama ibu saya) diharuskan memakai surat kuasa dan bermaterai. Sesaat, saya pikir mungkin benar harus pakai surak kuasa dan bayar materai. Saya berargumen, kalau saya datang cuma untuk cek fisik dan ngurusnya tetap di kota asal. Lagipula, kalau pakai surat kuasa bukan urusan petugas cek fisik. Akhirnya petugas tadi memberikan cap. Berarti secara eksplisit, dia sebenarnya menyatakan, kalau yang diutarakannya tadi hanya bohong belaka.
Huh, mungkin ada ratusan orang lain seperti saya. Coba bayangkan misal ada 100 motor yang diurus tiap hari dan tiap-tiap orang dimintai Rp. 10.000 . Jadi dalam sehari Rp 10.000 x 100 = satu juta. Sebulan 30 Juta!!
Kekesalan saya terhadap oknum petugas negara ini antara lain,
1. Gajinya dibayar rakyat namun Berbohong pada rakyat
2. Sholat di jam kerja (jam 14.00), memang sholat adalah kewajiban . Tapi kantor pemerintah sebesar samsat pasti punya jam makan dan sholat. Jam 12.00 – 13.00 saya kira
3. Kongkalikong dengan calo
4. Berperilaku seperti preman dengan memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat
5. Tega-teganya melakukan hal-hal diatas di bulan suci Ramadhan
Nama oknum petugas pemberi cap tadi: Bripka Soeroso . Tanpa bermaksud mencemarkan nama baik, semoga Allah memberikan petunjuk agar beliau bertobat dari rezeki yang haram.
Kalau ingin cek fisik coba cek fisik mesin saja sendiri, minta formulir dan cari Nomor Rangka dan MEsin sendiri. Sebenarnya ada petugas khusus, tapi biasanya menarik bayaran.










Baru aja komentar...