Kelakuan preman aparat di Samsat

11 09 2008

Kemarin saya pergi ke kantor Samsat Pajajaran Bandung. Keperluannya untuk meminta cek fisik bantuan dan cap pengesahan bukti cek. CEritanya motor saya sudah expired STNK-nya, jadi harus diperpanjang, Nah karena plat nomor Solo, maka pembayaran pajak harus dilakukan di SOlo. Sementara, motornya di Bandung, jadi cek fisiknya disini.
Dari awal saya pergi ke samsat, saya sudah yakin pasti banyak calo. Benar saja, ketika sampai disana, beberapa orang menawari jasanya pada saya (“Perpanjangan a’?). Sebenarnya memakai jasa calo sah-sah saja sih, namanya juga jasa pasti ada imbalannya. Saya tetap mengurus sendiri. Lagipula di samsat tersebut ada spanduk yang intinya jangan memakai jasa calo

Di loket cek fisik, sudah ada plang tulisan besar “TIDAK DIPUNGUT BAYARAN”. Namun yang membuat saya kesal adalah kelakuan aparatnya sendiri. Pertama ketika saya minta bantuan cek fisik ke seorang petugas cek fisik, ia meminta bayaran Rp. 10.000 . Saya nggak terima “Lho, katanya ga dipungut bayaran?” . Dia menjawab nggak jelas, “Itu kalo di loket cek fisik a’blabla… . Yang namanya cek fisik kan ya di lapangan kan??, lagipula dia itu petugas cek yang mestinya udah digaji .OK-lah, saya beri uang, sebagai pengganti uang lelah dan saat itu hari hujan, walaupun saya sudah kesal.

KEkesalan yang kedua, Saat di loket cek fisik, disitu ada 1 petugas (karena memakai seragam dinas) dan 2 orang lain (saya kira ini pasti calo). Saya minta untuk cap pengesahan bukti cek fisik. Orang yang saya kira calo ini, menawarkan untuk mengurusi ke kantor sebelah blablabla… Saya tak pedulikan, lha wong saya cuma minta cap saja. Akhirnya formulir saya diisikan oleh seorang calo di tempat itu juga, petugas pemberi capnya lagi sholat katanya. Tapi kata calo tadi ada biaya tambahannya. Yang benar saja, saya bersikeras karena sudah jelas tidak dipungut bayaran. Akhirnya petugas yang asli datang, syukurlah pikir saya. Saya dipanggil, disuruh menyerahkan KTP, lalu ia mengambil pamflet prosedur perpanjangan STNK. Seperti sudah fasih, ia menunjukkan kalau STNK yang bukan miliknya (memang STNK saya atas nama ibu saya) diharuskan memakai surat kuasa dan bermaterai. Sesaat, saya pikir mungkin benar harus pakai surak kuasa dan bayar materai. Saya berargumen, kalau saya datang cuma untuk cek fisik dan ngurusnya tetap di kota asal. Lagipula, kalau pakai surat kuasa bukan urusan petugas cek fisik. Akhirnya petugas tadi memberikan cap. Berarti secara eksplisit, dia sebenarnya menyatakan, kalau yang diutarakannya tadi hanya bohong belaka.
Huh, mungkin ada ratusan orang lain  seperti saya. Coba bayangkan misal ada 100 motor yang diurus tiap hari dan tiap-tiap orang dimintai Rp. 10.000 . Jadi dalam sehari Rp 10.000 x 100 = satu juta. Sebulan 30 Juta!!

Kekesalan saya terhadap oknum petugas negara ini antara lain,
1. Gajinya dibayar rakyat namun Berbohong pada rakyat
2. Sholat di jam kerja (jam 14.00), memang sholat adalah kewajiban . Tapi kantor pemerintah sebesar samsat pasti punya jam makan dan sholat. Jam 12.00 – 13.00 saya kira
3. Kongkalikong dengan calo
4. Berperilaku seperti preman dengan memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat
5. Tega-teganya melakukan hal-hal diatas di bulan suci Ramadhan

Nama oknum petugas pemberi cap tadi: Bripka Soeroso . Tanpa bermaksud mencemarkan nama baik, semoga Allah memberikan petunjuk agar beliau bertobat dari rezeki yang haram.
Kalau ingin cek fisik coba cek fisik mesin saja sendiri, minta formulir dan cari Nomor Rangka dan MEsin sendiri. Sebenarnya ada petugas khusus, tapi biasanya menarik bayaran.





Serba serbi Ramadhan(1) : Tarawih

3 09 2008

Seperti biasa setiap bulan Ramadhan masjid selalu penuh setiap malam karena ada tarawih. Ok-Ok, saya memang bukan ahli agama, jadi ga tahu dalilnya tentang tarawih :D . Yang saya tahu tarawih ini merupakan amalan sunnah, dimana setiap bulan ini Allah   SWT melipatgandakan amalan ibadah umatnya.

Nah, pada ramadhan malam ke-4 ini, saya sudah bolong tarawih satu kali (dibilangin saya kan bukan ahli agama >-<). Malam pertama tarawih di DT dan ketiga di masjid At Taqwa Gegerkalong. Saat tarawih di DT, saya bersama teman saya, wisnu, memang berniat malam pertama ramadhan pengen khusyuk denge khotib, biasalah anak muda, semangat2 di awal. Eh lha kok pas pulang tarawih, mata kami jelalatan nyari ukhti-ukhti santri DT yang alim sholihah… hahaha.

Selanjutnya, di Masjid At Taqwa dekat kos-kosan. Tidak ada hal yang khusus disini sih, namun yang saya amati disini adalah segerombolan anak kecil SD tengil. Ya, anak-anak SD ini memang menghiasi sudut masjid, aksesori ibadahnya lengkap:sarung, sajadah, peci, dan yang pasti ada “Buku Kegiatan ramadhan” , Geli juga melihatnya, anak-anak ini di masjid cuman bikin kegaduhan saja, tapi yang penting bukunya penuh tanda tangan pak khotib. Semasa saya dulu juga seperti ini, tarawih cuman niat biar buku ramadhan penuh, di masjid bersama teman kelas SD buat keributan. Jadilah gerombolan tengl ini selalu diperingatkan khotib Mungkin dulu kami belum mengenal istilah “titip absen” atau “palsu tanda tangan“, jadi selalu takut bila tak ikut tarawih. Coba kalau Mahasiswa ITB dikasih buku kegiatan ramadhan? wakakakk…

Satu lagi, tentang tarawih, biasanya saya mencari masjid yang tarawihnya cepat. Di Masjid Salman ITB, tarawihnya satu juz penuh .. maaaak. Makanya saya belum pernah tarawih disitu, padahal pahalanya lebih banyak kan. Dulu pas Malam Ramadhan pertama juga saya mengajak teman kesitu, tapi dianya ga mau, Nggak jadi deh Yah, semoga saya bisa meningkatkan iman saya di Ramadahn ini.Amiin





Marhaban Ya Ramadhan

31 08 2008

Merdunya adzan maghrib..

Manisnya kolak pisang tiga ribuan..

Berisiknya acara-acara TV pengantar sahur…

Kantuk pas khutbah dan sholat tarawih…

alunan musik-musik islami di radio dan mall..

Marhaban Ya RAmadhan ^_^





Tanggal cantik

20 08 2008

Iseng iseng backup file konfigurasi

hamka# cp xxx.conf xxx.conf.bak.20082008

Haha… ternyata sekarang tanggal cakep… :)





Thengkleng Klewer Solo

5 08 2008

Kemarin, Sabtu-Senin saya pulang ke Solo. Kepulangan singkat ini, dalam rangka kesripahan kakek saya meninggal dunia (Innalillahi wa inna ilaihi roji’un).

Selama berada di Solo, selain berkumpul dengan sanak saudara dan takziah di tempat nenek, saya juga sempat berjalan-jalan di Solo, untuk mbenerin Mio di bengkel, mbayar SPP di BNI dan komplain koneksi HP di Indosat :D .

Di tengah perjalanan, melewati Pasar Klewer (Pasar di Solo yang terkenal akan dagang pakaian), saya mencium aroma thengkleng yang maknyuss. Akhirnya karena belum sarapan dan makan siang, saya parkirkan motor di Masjid Agung. LAngsung saya cari, dimana aroma thengkleng itu berasal. Memang seingat saya, thengkleng klewer ini pernah direview sama Bondan WInarno. Sebagai orang Solo yang sudah puluhan tahun, seharusnya saya tahu thengkleng ini dari dulu (hihi.. jadi malu).

Akhirnya saya pesan satu porsi (satu porsinya IDR 10.000). Nasi putih lengkap dengan potongan kambing yang dimutilasi tulang iga, sate kuping-lidah, dan beberapa potongan kepala kambing, diguyur kuah  gulai bening dan dipincuk daun pisang. Wuuih sedep sekali… SAya sendiri tidak puas dengan satu porsi saja. Maklum saya lagi kalap, akhirnya pesan 1 porsi lagi dan satu gelas es kelapa muda. Maknyusss saudara…

Total makan siang hari itu (2 x IDR 10.000) + IDR 2000 = IDR 22.000 , agak boros memang, tapi puasss…. :D

NB: ga ada skrinsyutnya euy, lain kali beli HP yang ada tombol kameranya :D .

Ini gambar versi mangkoknya





Sawahku yang Hilang

31 07 2008

Minggu ini saya jalan-jalan ke daerah Bandung Selatan. Tidak seperti Bandung Utara, rata-rata Bandung Selatan jarang pepohonan dan panas banyak debu. Rencana awal sih, pengen jalan-jalan ke Pengalengan, tapi karena tak tahu jalan :D , baru sampai sampai Bale endah saya balik lagi. Sepanjang jalan dari Dayeuhkolot, jujur saja, pemandangannya “tidak indah” (untuk urang bandung no offense). Selain panas, banyak debu, di got-got juga banyak sampah, terang saja kawasan ini jadi langganan banjir. Belum lagi jalanan yang sempit, angkot ngetem, dan kotoran kuda, mungkin ini yang menjadikan saya malas jalan-jalan di sekitar Bandung. Kalau saya lihat, kawasan Dayeuhkolot ini dulu sebenarnya merupakan areal persawahan. Seiring berjalannya waktu, mungkin banyak dibangun rumah dan pabrik di sekitarnya. Sedih juga melihat lahan-lahan produktif ini menjadi pemukiman. Selain menggerus lahan produktif, juga menjadi penyebab banjir.  Pernah saya naik kereta api, di tengah perjalanan terjadi banjir di areal persawahan, rasanya kereta api seperti melintasi laut saja.
Sebelumnya saya jalan-jalan di di daerah Cimahi, lalu menyusuri Jalan Soekarno-Hatta. Saya membayangkan juga di jalan lingkar ini sebelumnya di kanan-kirinya sawah. Sekarang, sawah beberapa petak yang bisa saya temukan hanya ada di perempatan terusan Buah Batu.
Tidak usah jauh-jauh, dari kampus ITB, sawah mana yang terdekat? . Baru-baru ini saya menemukan ternyata ada sepetak sawah 500 meter ke utara simpang Dago, waktu saya sedang main ke asrama republika. Lalu ada juga di Cisitu, ada beberapa petak sawah. Bahkan ada saluran air, yang saya duga dulunya ini merupakan saluran air irigasi. Lalu tahukah anda Gedung Olahraga Cisitu?, tempat main bulutangkis, saya berani bertaruh dulunya ini merupakan Gudang atau tempat penggilingan beras. Cisitu, dulunya penghasil beras, kini jadi kos-kosan mahasiswa kampus gajah =p .
KEmudian lihatlah bukit dago pakar, sudah ada satu bangunan pencakar langit menjulang tinggi. Pasti dalam waktu dekat bukit asri ini bakal ramai dan gundul, imbasnya bukit ini tak lagi mampu menyimpan persediaan air. Teman saya yang tinggal di daerah sanapun mengeluh sulitnya mendapatkan air lewat sumur bor.


LAlu di tempat kosan saya, di Gegerkalong, dulu menurut sepupu saya saya, tahun  80an akhir. Kawasan di jalan gerlong kanan kirinya sawah. Kini, tak sepetakpun saya temukan. Rasanya menyenangkan kalau saya balik ke Solo, naik motor, di kiri kanan masih persawahan.
Memang pembangunan serta pertumbuhan penduduk yang cepat mengakibatkan lahan pertanian tergerus. Namun haruskah menggusur area pertanian? apalagi yang produktif. Lama-kalamaan negeri ini akan menjadi negeri pengimpor bahan pangan.
Menurut saya, hanya ada dua tipe negara yang dapat bertahan sampai akhir dunia. Pertama, negara penghasil pangan, walaupun miskin, yang penting kebutuhan pokok jalan terus. Kedua, negeri penghasil energi, yang ini memanfaatkan energinnya untuk menjadi kuat dan mencaplok negara lain.
Bagaimana menurut anda?

Thanks, Ibu Rizkita atas kuliah Pengetahuan Lingkungan. Saya jadi lebih peduli lingkungan :D





Wisudaan ITB, motivasi, dan kebanggaan

19 07 2008

Hari ini saya mengikuti acara wisudaan ITB, boleh dibilang acara ini spesial bagi massa kampus, karena selain perayaan kelulusan wisudawan juga perayaan bagi adik-adik angkatannya, otomatis perayaan kampus juga. Wisuda ITB ini diadakan 3 kali setahun, yaitu bulan Maret, Juli dan Oktober. Yang membuat Wisuda ITB spesial adalah perayaan yang unik dan meriah dari masing-masing jurusan, kostum-kostum unik, arak-arakan, perang air, setrum-setruman (yang dua terakhir ini khusus jurusan saya). Memang sudah tradisi perayaan ini, bahkan menurut swasta saya (senior tua, mungkin udah bekerja), dulu tawuran perkelahian antar himpunan jurusan adalah tradisi dan kebanggaan.

Saya ikut massa himpunan untuk mengarak calon wisudawan. Jadi kami berkostum tema film ‘Scream” menjemput wisudawan dari prosesi wisuda formal di Gedung Sabuga (belakang kampus). Kemudian wisudawan diarak melewati Jalan Tamansari samping kampus sampai ke gerbang depan kampus. Kemudian masuk kampus untuk acara setrum-setruman. Yang paling meriah adalah perang air, ratusan ribuan kantong air telah disiapkan untuk dilempar kesana kemari. Pokoknya meriah-lah, wisuda ini adalah wisuda terakhir angkaran 2006 yang mengurusnya, selanjutnya oktober adalah jatah anak-anak 2007, jadi saya gunakan sehari ini untuk wisudaan, selain bertemu kembali dengan teman setelah liburan juga memberikan saya motivasi

Motivasi apa? melihat para wisudawan, saya jadi ingin cepat-cepat lulus, mungkin tepat 2 tahun lagi (AMIIIINNN….. *sambil teriak*). SAya membayangkan wisudawan telah melewati masa-masa senang dan sulit di ITB, khususnya elektro. Mulai dari ospek, kuliah, praktikum,ngerjain PR, tes awal-akhir, laporan, lab, ujian , skripsi, sidang dan sebagainya. Saya akan menjadikan momen-momen seperti ini untuk diingat saat saya sedang putus asa, seperti saat belajar, stack mengerjakan PR, praktikum dsb. Mungkin momen ini belum saya lalui, namun akan saya dambakan. Seperti saat kita berlari jauh, kita bayangkan saat-saat finish, tak terasa ada energi yang menarik dari depan dan telah membawa kita lari jauh

Satu lagi di acara wisudaan ini, rasa bangga…. Siapa sih yang tidak bangga di acara ini? kita tilik satu persatu

1. Wisudawan, sudah jelas bangga, baik lulusan muda maupun tua, IP pas-pasan apalagi yang cumlaude. Bagaimana tidak? lulus dari institut yang katanya terbaik bangsa (katanya lho :p). Satu lagi, kebanggaan sebagai massa jurusan, saat diarak, dengan adik angkatan yang meneriakkan mars jurusan dengan semangat, belum lagi dilihat mahasiswa-mahasiswa lain di jalanan.

2. Orang Tua, mungkin di momen seperti ini, orang tua sudah lepas dari tanggung jawab mendidik anaknya. Tak heran bila banyak orang tua menyuruh anaknya cepat-cepat lulus dibandingkan orang tua menyuruh anaknya lulus cumlaude atau juara lomba

3. Massa himpunan, walau rela dan capek berpanas-panas ngarak, teriak-teriak pula, tapi demi kebanggaan akan jurusannya. Apalagi dihadapan orang banyak. Semakin teriak keras, menarik perhatian orang banyak, semakin bangga. Selain itu, juga termotivasi bila kelak mereka lullus mereka juga akan dapat diarak penuh semangat

4. Civitas akademika, mulai dari TU, karyawan, dosen, kaprodi, dekan mungkin juga rektor. Lihat anak didik-nya lulus tentulah bangga, apalagi perayaan di jurusannya meriah. Kampus remuk dan kotor sekali-kali juga takpapa. Mungkin rektor-rektor sebelumnya berpikir kalo tawuran juga boleh-boleh aja (lha wong dulu pas jaman beliau kuliah lebih kejem tawurannya :D )

Mungkin yang paling sebal wisuda adalah pengguna jalan tamansari. Bikin macet jalan saja wisudaan ini, begitu mungkin pikirnya . (Maaf mas/mbak, lewat dago aja toh di jalan ini cuma ada bonbin dan BATAN)

Total wisudawan elektro kali ini sekitar 80-an katanya (proporsional, sepertiga jumlah angkatan :D ). OK CHAMP!!!!!.

Spesial untuk wisudawan

Agfa Prayoga, Mentor saya, yang membuka mata saya tentang dunia elektro

Irvan TAmbunan, Senior di Unit, selamat bung, kususul jejakmu masuk tekkom

Aditya Arie Nugraha, KAkak kelas SMA, Pelopor Wika 2004 ki…..

Well, seluruh wisudawan, Selamat dan Sukses!!!!

*Sori ,blum ada foto, lagi nyari sie. dokumentasi*





20 kilometer per jam

13 07 2008

Liburan ini, saya melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan. Kalau dihitung-hitung dari hari Rabu pagi sampai Jumat sore kemarin (60 Jam), saya telah menempuh jarak kira2 1200 kilometer dengan berbaga moda transpotasi, berikut rinciannya
1. Solo-Jakarta .Rabu pagi, berangkat dari Solo ke Jakarta naik kereta api Eksa Tambahan. Aneh juga namanya, begitulah nama kereta api ini yang tertera di tiket. Harganya mahal juga, 230ribu, namanya juga eksekutif tambahan. Jarang2 saya naik eksekutif, fasilitasnya full AC dan dapat makan siang, ada TVnya juga. Oya, perjalanan saya ke Jakarta ini dalam rangka mengantar bapak saya sampai ke Lampung. Isya kami sudah sampai di Jatinegara
2. Jakarta – Merak .Setelah mampir di tempat kakak di Bekasi, dimulailah misi suci saya sebagai sopir mobil. Ini juga merupakan pengalaman pertama menyetir perjalanan jauh. Saat di Bekasi-JAkarta, lalu lintas sudah pasti ramai, disini capek ngopling2 karena kemacetan lalu lintas (duh, aneh orang jakarte, kok bise ye betah idup disini?). Berikutnya masuk jalan tol dalam kota dan jakarta-merak, nyetir di jalan tol itu gampang2 susah. Gampangnya, jalan lancar dan sepi, susahnya, karena sepi dan lancar, maka banyak kendaraan ngebut sehingga sering terjadi kecelakaan.
3. Merak – Bakauheni, tak banyak yang diingat di kapal, selesai memarkir mobil, langsung tepar..
4. Bakauheni – Metro, Melanjutkan perjalanan dengan mobil, kami berhenti istirahat Subuh dulu di restoran Padang (Sumpah, ga akan ditemui warung tegal, lesehan solo ato saung sunda, sudah dijajah orang padang rupanya). Jam 6 sampai di Kalianda, terjadi konvoy kemacetan. Ternyata di depan baru saja ada tabrakan bus vs bus jam 4 subuh tadi, BUsyet sudah 2 jam macet, sudah pasti panjang konvoy kemacetan total ini. Akhirnya ada penduduk setempat memberi tahu alternatif jalan desa di dekat tempat kemacetan mobil kami , masuklah kami ke jalan tersebut. KIra-kira ada 4 mobil (termasuk mobil kami) yang nekat jadi pionir lewat jalur alternatif ini. Ga jelek2 amat kok jalannya, melewati perkampungan orang asli lampung. Akhirnya jam 9 pagi sudah sampai rumah metro

jam 9 -12 : MAndi, tidur 1 jam, jalan2 sebentar, makan siang sebelum pulang naik bis
5. Metro – Bakauheni, naik Bis, duduk di depan sendiri. Sudah berniat ingin melihat TKP kecelakaan bis tadi pagi.. eee lha kok ketiduran -_-
6. Bakauheni-Merak, Naik kapal, kali ini saya naik ke dek penumpang sambil ngeceng2 kali aja ada cewek cakep . TErnyata di kapal yang saya tumpangi ini ada kelas VIPnya lho. Saya lihat dari jendelanya, ada sofa, LCD TV, keren lah. Sementara, saya berdesak2an di dek kelas ekonomi. Jadilah saya duduk manis di belakang bapak2 yang ngrokok sambil liat TV (Pakai jaringan Indovision ternyata). Saat mau turun, melewati kelas VIP yang mewah , sial ternyata yang cakep2 pada ngumpul di VIP
7. Merak- Jogja, Melanjutkan Bis, lumayanlah duduk didepan sambil mendengarkan obrolan sopir dan kernet yang ternyata orang jawa juga Sampai Jogja, saya menghubungi teman disana.. JAdilah saya turun di JOgja, jalan2 di Maliobora dan makan “kucingan” di angkringan dekat stasiun
8. Jogja-Solo, Naik kereta Prambanan Ekspress, banyak ketemu teman2 SMA disini.
9. Stasiun-rumah, kali ini bis kota juga sudah tidak ada, mau jalan kaki bisa bengkak ini kaki. Akhirnya ngojek

Kalau dihitung2 perjalanan ini 1200 km dalam 60 jam, berarti setiap jam saya berlari secepat 20 km per jam !!!





Gengsi Jalan Kaki

30 06 2008

Pagi ini saya tiba di Solo naik kereta Lodaya malam, kirain kereta ini bakal telat sampai Solo. Ternyata setengah enam kurang sudah sampai. DI kereta sudah berniat pulang naik bis kota tercinta (mereknya Atmo), kalau tidak ada ya jalan kaki saja.

Di depan pintu keluar stasiun sudah ada berbagai moda transportasi yang siap menyambut saya ke rumah

1. Becak mas, becak, pundhi to? (Becak mas, mau kemana to?) . Dari pertama saya sudah niat tidak akan naik becak karena beberapa alasan , kalau diitung2 rugi, saya cuman bawa tas punggung saja tanpa bawaan apa-apa jadi kurang menantang bagi tukang becak :D . Kedua, saya menganggap naik becak ini serasa jadi raja dengan singgasana tempat duduk yang lebar , apalagi kalau cuma sendirian .Bagi saya yang berhak sendirian duduk di kursi becak cuma dua macam orang, turis dan mbokde2 bakul pasar :D .

2. Ojek mas, ojek mawon (ojek mas, ojek saja).  Sebenarnya tergoda sih naik ojek, Beda dikit dengan becak, lebih kencang lagi. Tapi niat ngojek saya urungkan, ngebis saja lah…

3. Bis kota, lupa ternyata kereta datang kepagian, Seingat saya pas SMP berangkat pagi jam ke-0, bis kota pertama datang sekitar jam enam seperempat!!!

4. Ya sudah jalan kaki saja, jarak stasiun-rumah sekitar 3 kilometer kurang, yah itung2 olahraga. Mau balik ke tukang ojek tadi, seperti tak punya muka, niat ini sudah mantap JALAN KAKI

………

Satu kilometer berjalan, WUssss….. bis kota idaman melesat dengan kencang dari belakang. Damn…. saya lupa, bis yang datang dari barat datangnya memang lebih pagi!!!, bis pertama dari timur  yang saya tunggu pas SMP memang berangkat setelah bis pertama ini balik di terminal.

Tetapi dari kejauhan 50 meter sang kernet masih memberikan kesempatan naik bis ini. Saya pikir karena sudah telanjur jalan kaki 1 km, ya sudah jalan kaki aja. Lagipula di depan saya ada orang lagi jogging, ga lucu aja lari2 ngejar bis sambil mbalap orang lagi jogging

Akhirnya sampai di rumah dan tidur lagi :D





Pulang dulu

29 06 2008

Pulang dulu ah…

meninggalkan bandung yang ramai

menuju solo yang panas, damai, dan indah :D