Buku detektif ini sebenarnya sudah lama, cetakan bahasa Indonesia tahun 1986 dan pengarangnya sendiripun sudah meninggal. Saya sendiri mendapatkan buku ini dari kolektor buku bekas di Internet. Situsnya disini (thx to Mbak Devi). Buku detektif ini, masing-masing mempunyai 20 cerita pendek atau kasus, dimana di setiap akhir kasus terdapat pertanyaan mengenai kesalahan sang pelaku yang membuktikan bahwa dialah sang tersangka. Disini pembaca diajak untuk ikut berpikir dalam menyelesaikan suatu kasus, jawaban pertanyaan tersebut terdapat di bagian akhir buku. Tidak seperti cerita Detektif Conan atau Kindaichi, cerita di buku ini lebih simpel, tapi jangan salah, untuk menyelesaikannya dibutuhkan logika dan kecermatan yang tinggi.

Saya sarankan untuk membaca buku ini didampingi dengan internet. Karena untuk menyelesaikan beberapa kasus yang sulit (level bintang tiga), dibutuhkan wawasan yang luas. Sebagai contoh, saya membutuhkan peta Jerman untuk membuktikan kata-kata pelaku mengenai tempat tinggalnya. Yup, suasana daratan eropa zaman 70an sangat kental di buku ini, karena pengarangnya sendiri berasal dari Jerman


Saya sendiri tertarik pada buku ini ketika dulu semasa SMA pernah membaca salah satu seri buku ini, berjudul Saat Maling Main Catur , sekarang sudah hilang sepertinya dipinjam teman. Selanjutnya saya memesan seri yang lain di internet, antara lain judulnya, Pianika embuka RAhasia, Misteri si Baju Hitam dan Puri Gorila Merah. Biaya pesan dan kirimnya tidak sampai 40.000 rupiah . Pengen saya koleksi buku-buku seperti ni. Ada yang punya? . Mungkin saya malah pengen menulis cerita-cerita misteri semacam ini.

Baru-baru ini saya menyaksikan acara seri Jepang berjudul The Professional, acara seri singkat kurang lebih 1 jam ini menceritakan tentang satu bidang pekerjaan tiap serinya. Diceritakan mengenai keseharian pekerjaan tersebut, seperti dokter, pattisier, scientist, polisi dan lain-lain, yah semacam kisah sukses gitu. Hikmah yang dapat diambil dari pekerjaan ini adalah, mereka dapat menikmati pekerjaanya sehingga hasil yang didapatkan menjadi maksimal.

Tapi tak usah jauh-jauh ke Jepang, di negeri ini pun banyak juga professional, saya ambil contoh ni penjual lotek. Jumat lalu, siang-siang sehabis jumatan, saya dan beberapa teman kos mencari makan siang. Sampailah kami ke tempat penjual aneka makanan sayur2an seperti rujak, lotek, karedok , pencok (ga tau ini apa). Kami memesan 3 porsi lotek beserta nasi.
Sebenarnya, sebelum kami, sudah ada pembeli-pembeli lain yang memesan, sekitar 3-4 orang. Yah paling nunggu 10 menit paling udah jadi. Namun perkiraan saya salah, untuk membuat satu porsi makanan saja, sang penjual mungkin dibutuhkan waktu sampai 5 menit, sebuah waktu yang lama untuk makanan sekelas lotek. Saya perhatikan, proses yang lama adalah pembuatan bumbunya. Mulai dari meracik sambel kacang, ditambah ini itu, dideplok (lupa bhs indonya :D ), sampai mencampur sayur2an . Saya pikir mengapa bumbunya tidak langsung jadi saja, disimpan dalam kaleng trus waktu ada pesanan tinggal dicampur sayur2an, seperti model-model penjual kupat tahu.
Setelah porsi untuk kami jadi, saya mencicipi dan ternyata enak, padahal cuma lotek, sayur2an tok (tidak ada unsur2 hewaninya :D). dan saya langsung habis pertama diantara 2 teman saya. Hmm … memang lezat . Saya mulai tahu kenapa sang penjual sengaja meracik bumbu saat pemesanan, yaitu menjaga rasa. Saya teringat, masak pakai gas, minyak atau arang, rasanya akan berbeda. Dengan menyimpan bumbu dalam waktu lama, pasti akan merubah rasa lotek yang akhirnya malah mengecewakan pelanggan. Disini saya lihat ke-professionalitas-an sang penjual dengan menjaga rasa dan kepercayaan pelanggan. Bukan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan menambah kuantitas dan mengurangi kualitas. Lalu mengenai lamanya waktu? , Saya lihat orang-orang yang memesan disini memang sudah pelanggan dan mereka juga menyadari lamanya waktu untuk memesan, jadi lama waktu tidak jadi masalah. Mungkin pembeli baru seperti saya yang harus belajar menyadari hal tersebut.

Yah mungkin kita bisa belajar dari penjual lotek tadi. Hikmah yang dapat dipetik adalah kita harus berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain. Katakanlah bila bekerja, kita bekerja bukan untuk honor atau gaji, tapi niatkanlah untuk memberikan manfaat untuk orang lain, Insya Allah bukan hanya materi namun hasil maksimal dan amal jariyah juga akan kita peroleh (cem khotib jumatan pula awa ini :D)
Ini saya tambahi foto lotek dari google biar menambah suasana lapar

Radio oh radio

01May08

Di tengah jaman perkembangan teknologi ini, dimana banyak bermunculan produk gadget-gadget baru. ada satu gadget yang tidak bisa saya tinggalkan yaitu “Radio” .

Saya mulai menyukai radio sejak kelas 3 SMA, saat itu channel radio yang sering saya setel JPI FM, karena banyak sekali obrolan bahasa jawa yang segar.

Sampai sekolah di Bandung, channel yang sering saya dengar adalah i-radio FM, channel ini banyak memutar lagu-lagu Indonesia dan yang saya sukai adalah ketika channel ini broadcast langsung dari Bandung (Stasiun radio ini merupakan cabang dari i-radio jakarta), karena penyiarnya segar, bersemangat serta sopan (thanks to Urban, Firly, Alny cs).

Saya juga menyukai channel EL Shinta News & Talk, radio ini “hanya” menyiarkan berita-berita dan acara diskusi. Menurut saya, dibanding internet atau TV, kecepatan penyiaran berita lewat radio ini adalah tercepat. Bayangkan saja tinggal telepon ke operator el shinta, informasi bisa disiarkan langsung. Selain update, tiap hari acaranya selalu diskusi, ato boleh dikatakan radio “ngomong” tidak ada lagu, paling cuma iklan. Jadinya tidak kesepian kalau larut malam. TIdak jarang saya tertidur dengan radio ini tetap berbunyi.

Channel selanjutnya yang saya sukai adalah Rama FM, channel ini banyak memutar lagu-lagu dangdut, baik dangdut konvensional maupun dangdut metal aka dangdut cirebonan :D. Pokoknya hidup Dangdut !!!

Sayangnya di Bandung ini, saya belum menemukan radio khusus bahasa Jawa. Ada juga namun hanya di jam-jam tertentu. Ada yang tau?

Nah lalu gadget apakah yang selama ini saya pakai untuk mendengarkan radio. Hihi terlalu keren kalo disebut gadget sih . ini dia.

Maaf kalo gambarnya gelap, pakai kamera laptop sih

Radio ini merupakan peninggalan kakak sepupu saya yang merupakan pemilik kamar kos dahulu. Radio ini merknya JVC 838 W. Radio ini merupakan keluaran 70an , sudah dilengkapi kaset dan  recorder. Gelombang radio yang bisa ditangkap mulai dari SW, SW1 dst, MW (ga tau apa sekarang masih ada pemancar yang pakai frekuensi ini) sampai FM, namun tidak ada AM. WAlaupun sudah tua (tua mana ya sama radionya ARC??),tapi sampai sekarang masih maknyuss untuk didengar.

Ini nih gambar versi kerennya

radio jadul

Pagi ini, ato lebih tepatnya kemaren malam, saya (hampir) begadang buat ngerjain PR Sinsis yang memusingkan (yang pada akhirnya saya mencontek teman esok paginya). Di tengah kemumetan itu, saya hidupkan TV sengaja agar tak kesepian. Acaranya waktu itu adalah ketoprak humor, di TPI jam 23.00 - 01.00. Entah kenapa, saya jadi ingin menonton acara tersebut. Ternyata sepanjang acara saya jadi sangat terhibur dengan acara “ketoprak humor” ini. SAya menganggap acara ini benar2 menarik dan terlalu sayang untuk dilewatkan

Ada beberapa alasan kenapa saya begitu senang menonton acara ini.

1. Acara ini lucu, mungkin bagi orang jawa seperti saya, banyak humor2 dengan bahasa jawa yang segar dan penuh spontanitas.

2. Dulu, waktu ketoprak humor masih prime time malem minggu jam 7 - 9 . Saya sering menonton acara ini. Tapi karena seiring mundurnya jadwal jam tayang semkain larut, jadi hamka kecil jarang menonton acara ini.

3. MErupakan kenangan bagi saya. Saya tiap malam minggu biasanya di rumah simbah di kalioso, menonton acara ini bareng keluarga besar. :D

4. Mengobati kerinduan saya akan tanah jawa (weissyeh…)

So…. ayo cah nonton ketoprak humor timbangane nonton sinetron…. !!

Yang pasti setiap malam senin tidak akan saya lewatkan acara ketoprakan ini…. Bravo Ketoprak Humor

Hari ini agak aneh dan spesial bagi saya (padahal bukan hari ulang tahun saya) . Keanehan tersebut berawal ketika saya melewati himpunan  ada sedikit urusan . Salah seorang teman saya menyapa “Kemana aja kau ham, ga pernah kelihatan?” . Saya sih cuman cengengas-cengengesan, aneh aja, lha wong ga kemana-mana. Lalu pas di Musholla Comlabs , salah seorang teman saya juga menanyakan pertanyaan yang sama (Nengndhi wae koe pak??, ra tau ngetok).

Aneh juga, tapi saya pikir pertanyaan tersebut dilontarkan teman-teman saya dari himpunan. Memang akhir-akhir ini saya jarang ke himpunan (memang sebelumnya pernah??). Sengaja saya pasif berorganisasi dalam himpunan,  karena saya sendiri kesulitan membagi waktu. Takutnya, setelah aktif di himpunan nanti saya tidak bisa menjalankan amanah. Tapi ada satu hal yang ingin saya lakukan untuk bukan hanya himpunan tapi Civitas Elektro. Itu salah satu tekad saya berkuliah di ITB

Mengapa Civitas Elektro?,  Dari awal masuk STEI saya sendiri merasa berhutang ke Civitas. BAgaimana tidak ketika anda masuk ke Prodi Teknik Elektro, anda bangga, kebanggaan itu diperoleh dari kakak2 kita dari saat Prodi Elektro berdiri. Hal lain, misalnya lab, dosen, bahan kuliah , semua itu diperoleh dari hasil kerja keras pendahulu kita (waktu lab masih terbatas, dosen2 kitapun lulusan elektro). Saya nggak ingin elektro cuma dijadikan batu loncatan ke jenjang karir, harus ada timbal balik dari mahasiswanya. Yah itulah tekad saya bagi Civitas. Ok Champ…… Elektro…elektro…elektro….

Lalu pertanyaan ” Kemana saja kau ham??”

Jawabannya “Mencari sesuap nasi agar asap dapur tetap mengepul” :D

Saya iseng-iseng bikin wallpaper untuk laptop saya sendiri, habisnya bosan dengan wallpaper alam. Jai saya bikin sendiri (ada nuansa alamnya)
wallpaperku

Foto diambil di daerah dago pakar 2 bulan lalu (besoknya UTS), Ini foto saya, Wisnu, Mas Sahal dan Wibi (yang memotret). keren kan??? :D . MEmandang kota bandung yang gemerlap. Di tambahi tulisan2 narsis penambah semangat hihi….

Hari Kamis minggu lalu pas liburan di Solo, saya bersama teman-teman SMA, inas, kendhil, ferdos, pulung, arya, jalan-jalan ke dataran tinggi di timur Solo, yaitu Kemuning, letaknya sekitar 30 KM dari kota Solo. Ini foto-foto perjalanan kami.

Perjalanan Solo-Kemuning, sangat lancar, sepi dan sejuk ,sangat kontras dengan jalanan di Bandung

Hujan???? istirahat dulu di tempat parkir di salah satu Bank Desa

Sampai di atas, kami menembus awan

Di kebun tehh….

Di candi sukuh yang banyak dupa-dupa dibakar (hiiiiii….)

Berpose di Sungai Canon (kami namakan sesuai nama merek kamera teman kami yang jatuh di sungai tersebut)

Jangan lupa sholat… ingat matimu :D

Baru aja dapet email dari pak Gibson, dosen wali saya, yang bilang bahwa rencana studi saya sudah di-aCeCe

RS

Entah mo bilang apa. mo bilang “Horeee…. Rencana Studi-ku disetujui pak dosen” ato “Matilah awa, kemaren ngisi rencana studi asal2an bo…”. Kenapa bimbang? karena memang saya lagi bingung mo ngambil subjur apa, telkom ato tekkom ato kendali malah. Walhasil saya ngambil 21 SKS dengan kelas ngikut teman (bukan berdasarkan NIM). Padahal jadwal kelas saya tuh masih banyak yang bentrok gara2 database di situs OL nya keliru. Mana pas perwalian diceramahi Pak Gibson jangan ngambil kelas banyak2, soale nilai yang keluar baru atu, itupun C !!!.

YAh, ntar deh liat2 pas kuliah. Jadi keknya PRS deh ntar
Pasti deh Pak Gibson ni lagi online di gedung seberang. Coba deh kalo saya punya alamat YMnya pak Gibson. Saya bisa nego dulu ma doi ;D

Squid adalah program proxy server. Proxy sendiri adalah program untuk melakukan caching terhadap halaman website, sehingga pengaksesan ke halaman website menjadi lebih cepat karena halaman web yang sudah dibuka telah tersimpan di proxy server. Gabungan aplikasi proxy server dan firewall, dapat menjadikanya semacam gateway untuk mengakses halaman website.
Squid yang saya gunakan ini adalah versi 2.6 .Proses instalasi saya lakukan lewat source. Hasilnya sama saja dengan lewat port atau package. Setelah proses instalasi pastikan ada file konfigurasinya squid.conf, biasanya berada di /usr/local/etc/squid/squid.conf dan juga ada user squid dan group squid sebagai user yang menjalankan squid, demi keamanan sistem.
Continue reading ‘Konfigurasi squid sebagai proxy server’

Proses pengiriman email terdiri dari beberapa komponen. PErtama adalah user, MUA (Mail USer Agent), MTA (Mail Transfer Agent) dan MDA (Mail Delivery Agent). MAil server adalah komponen di dalam MTA dan MDA (POP server) ini. MUA biasanya adalah program compose email, seperti Outlook, Eudora, Netscape dan sebagainya
Misalnya email hamka@arc.itb.ac.id ingin mengirim email ke muhammad.hamka@comlabs.itb.ac.id. Pertama-tama, email dibuat di program MUA semisal Outlook atau Netscape, bisa juga dengan web interface yang disediakan mail server. Lalu mail server arc.itb.ac.id ini akan memproses pesan ini. Misalkan di email ada beberapa field yang kurang lengkap maka akan dilengkapi oleh program dari mail server tersebut. Lalu email tersebut akan “diantrikan” dalam queue list.
Setelah pada giliran email ini akan dikirim, mail server akan melookup MX record dari comlabs.itb.ac.id, untuk mengetahui mail server yang bertanggung jawab atas pengiriman email di comlabs.itb.ac.id. Setelah itu pesan dikirim lewat protokol SMTP ke mail server ini. Mail server comlabs mengetahui bahwa email itu untuk dirinya. Dengan mengetahui nama alias muhammad.hamka , pesan dikirim secara lokal ke mailboxnya sendiri.



Categories